Sepertinya ada dua hal yang tak pernah bisa lepas dari kehidupan saya sejak dulu. Hal pertama adalah ketertarikan saya pada menulis. Dan yang kedua adalah ketertarikan saya pada kucing.

Selama ini saya sudah terlalu sering membahas tentang ketertarikan saya pada kegiatan menulis. Kali ini saya ingin membahasa hal kedua yang tak pernah bisa lepas dari kehidupan saya, yaitu ketertarikan saya terhadap kucing.

Kalau diingat-ingat, jujur saja, sebenarnya dulu sekali, saya sangat tidak suka dengan hewan yang satu ini. Entah kenapa, saya sendiri tidak tahu penyebabnya. Yang jelas, setiap kali saya menatap mata hewan tersebut, saya selalu merasa takut. Malah, dulu saya beranggapan bahwa, sepertinya saya lebih baik mengalami hal-hal gaib daripada harus menatap mata kucing. Hiii…

Sampai akhirnya datanglah rasa penyesalan itu. Penyesalan yang membuat saya justru menjadi sangat dekat dengan kucing. Rasa sesal yang datang setelah saya menyakiti kucing kecil yang sengaja adik saya pungut sepulangnya ia salat magrib dari masjid yang letaknya tak seberapa jauh dari rumah kami yang dulu.

Semenjak kedatangan kucing kecil itu, setiap saya makan rasanya sungguh tersiksa. Bagaimana tidak tersiksa kalau setiap kali saya makan, kucing kecil itu selalu mengikuti saya, mendekati saya, mengoeng-ngeong, bahkan mengejar-ngejar saya. Bukan hanya pada saat saya makan, tapi juga pada saat saya nonton televisi, belajar, tiduran, pokoknya hampir semua kegiatan saya di dalam rumah, kucing kecil itu selalu mepet-mepet ke saya. Saya sendiri tidak mengerti mengapa kucing kecil tersebut lebih suka mepet-mepet ke saya dibanding ke adik saya yang jelas-jelas sudah menyelamatkannya, memberinya makan, bahkan terus mengelus-elusnya. Yang jelas kelakuannya itu benar-benar membuat saya ketakutan setengah mati. Apalagi kalau tanpa sengaja mata saya dengan mata kucing kecil itu beradu pandang. Waaaa…! Saya bisa menjerit dan berlari-lari tak karuan.

Ibu saya bahkan pernah marah gara-gara saya lari dan menjerit-jerit sambil memaki-maki kucing kecil itu. Berisik! Katanya. Heuuu… padahal saya tengah ketakutan setengah mati waktu itu. Huhu…!

Saking takut dan kesalnya waktu itu, saya sampai menendang kucing kecil itu hingga terpental. Kaki saya sedikit terkena cakarannya. Dan dari peristiwa inilah semua penyesalan itu berasal.

Sungguh, entah kenapa tiba-tiba saja saya justru malah jadi kasihan dan sedikit khawatir dengan keadaan kucing kecil yang saya tendang itu. Untuk beberapa hari lamanya diam-diam saya terus memperhatikannya. Memastikan kalau dia benar-benar baik-baik saja. Dari perhatian diam-diam, perlahan saya juga jadi bersikap lebih baik padanya. Saya tak lagi terus menghardiknya ketika dia mepet-mepet ke saya, saya mulai sesekali mengelus-elus bulunya, saya mulai berbagi makanan dengannya, bahkan juga berbagi tempat tidur. Aih, tanpa sadar ketakutan yang saya rasakan setiap kali menatap sepasang mata kucing jadi luntur. Hingga akhirnya hilang sama sekali. Tak berbekas. Saya jadi menyayangi kucing kecil itu. Kucing kecil yang akhirnya tumbuh besar dan beranak. Anaknya saya beri nama Bubo. Kucing jantan tiga warna.

Jika ditilik dari masa kecil saya dulu, ibu saya bilang, sepertinya saya memang ditakdirkan untuk selalu dekat dengan kucing. Waktu itu ibu saya menunjukan beberapa foto masa kecil saya. Dari mulai foto umur tiga tahun, lima tahun (foto yang ini saya berpose pake baju Batman loh! haghag…!), sampai foto umur di atas lima tahun. Kesemua foto itu, semuanya, tanpa terkecuali, pasti selalu ada kucingnya. Entah itu tengah menyandar di kaki saya, tengah lewat di depan saya, atau sengaja malah ikut berpose. Yang jelas, ibu saya bilang, dia sendiri nggak tahu dari mana asal kucing-kucing itu. Yang dia tahu, pokoknya setiap kali saya akan di foto, selalu akan ada kucing yang entah dari mana datang mendekati saya. Meskipun saya foto berdua, bertiga, tetap saja, kucing itu akan memilih tempat di dekat saya.

Cerita saya ini kedengarannya memang aneh, tapi ini nyata. Saat ini saya tidak sedang menulis fiksi.

Saya tidak pernah ambil pusing dengan semua hal itu. Yang jelas, sejak saat itu, ke mana pun saya pindah rumah, pasti akan selalu ada kucing yang mendatangi rumah saya dan menjadi peliharaan saya. Bahkan, beberapa kali saya pindah kerja pun, selalu ada kucing yang mendekati saya.

Kalau dihitung-hitung, jumlah kucing yang pernah saya pelihara mungkin bisa mencapai lebih dari seratus ekor. Tapi itu kalau dikumpulkan dan masih hidup semua. Sebagian besar kucing saya sudah almarhum, sebagiannya lagi pergi entah ke mana. Menghilang tanpa jejak. Dan yang masih bertahan sampai sekarang, masih ada sekitar empat kucing. Tapi yang selalu menetap di rumah cuma ada dua kucing. Namanya si Oren dan si Poky. Yang dua lagi, si Petty dan si Nici hanya sesekali pulang kalau jam-jam makan saja.

Karena saya tidak memiliki semua foto-foto kucing saya, di sini saya tunjukan foto-foto dari ketiga kucing saya yang foto-fotonya masih ada saja ya. Hehe’

Oren

Oren

Namanya si Oren. Kucing ini adalah kucing paling bandel, tapi juga paling setia di rumah. Meskipun sudah sangat sering dimarahin, dibentak, bahkan dipukul sama bapak saya, dia teteeep aja ngeyel terus mepet-mepet ke bapak. Hobinya merhatiin orang. Makanan kesukaannya jagung rebus. Kalau di rumah lagi kedatangan tamu, dia suka SKSD (Sok Kenal Sok Deket). Kalau dimarahin atau dibentak sama saya dia suka ngambek. Nggak pulang-pulang sampe beberapa hari. Kayak kejadian kemarin lusa. Dia baru aja kabur, tapi pulang lagi setelah perutnya lapar.

Si Belang

Si Belang

Kalau yang ini namanya si Belang. Dia paling nggak suka dipeluk. Kalau dipeluk, dia akan marah dan menggeram-geram. Hobinya tiduran di atas genteng tetangga. Makanan kesukaannya tempe dan kremesan bakwan (pada tahu bakwan kan? Kalau nggak tahu silahkan searching aja di google).  Tapi sayangnya, sekarang dia sudah almarhum. Foto-fotonya ini hasil nyolong dari hape adik saya.

Si Bucil

Si Bucil

Kalau yang ini namanya si Bucil. Kucing paling putih, paling montok, paling sok jaim, paling suka berpose kalau tahu dia lagi di foto, tapi juga paling manja. Enak dipeluk, kayak boneka. Haghag…! Hobinya ngadem di bawah pohon sama naik-naik genteng tapi nggak bisa turun. Makanan kesukaannya, hmm…, kayaknya segala jenis makanan dia suka deh. Sayangnya, si Bucil hilang. Sampai sekarang tak pernah ditemukan. Hiks!

Kali ini cukup segitu dulu cerita saya tentang kucing-kucing saya. Kapan-kapan saya ceritain lagi kucing-kucing saya yang lain.