Hikayat Kalam

Oleh: Poetry Ann

Seperti yang dikatakan oleh salah satu kawan sekaligus juga orang yang saya hormati di jejaring sosial facebook, Mas Widhi Hardianto. S (Penyair), beberapa hari lalu melalui SMS. Bahwa puisi adalah pengalaman paling privasi dari penyairnya. Hingga untuk mengupas puisi dikatakannya lebih susah dari pada mengupas sebuah novel dan tulisan lainnya. Itu jugalah yang saya rasakan ketika membaca puisi-puisi karya keenambelas peserta Majelis Puisi Rumah Dunia dalam buku “Hikayat Kalam” ini.

Saat saya membaca puisi-puisi mereka dalam antologi puisi tersebut, rasanya saya seperti tengah membaca berbagai rasa, peristiwa dan pergulatan batin yang tengah mereka alami ketika mereka menuliskan puisinya masing-masing. Mulai dari pergulatan batin yang bersifat religius (yang berhubungan dengan Tuhannya) seperti pada puisi-puisinya Afsha Al Khansa dan Alma Veelah. Pergulatan batin mereka dengan kondisi sosial dan politik yang ada di sekelilingnya seperti pada puisi berjudul “Pencari Bahagia” dan “Suara Di Langit Utopia” karya Syakky Lucky. Pergulatan batin mereka dengan keadaan alam di sekitarnya seperti pada puisi “Anyer” karya Wong Sae dan “Bibir Anyer” karya Liya Al Mahra. Pergulatan batin antara dirinya sendiri dengan orang-orang yang dikasihinya seperti pada  puisi-puisi karya Anna Lestari. Juga pergulatan batin mereka yang menunjukkan ketidaksetujuan dan bentuk protes terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, seperti pada puisi-puisi karya Rully Ferdiansyah. Dan banyak lagi pengalaman dan pergulatan lahir dan batin mereka yang bisa kita dapatkan dalam antologi puisi tersebut.

Mereka menuliskannya dengan gaya masing-masing beserta kelebihan dan kekurangannya. Ada yang mengembangkan puisinya dengan berbagai diksi yang cukup indah dan menyentuh seperti pada puisi berjudul “Puisimu Adalah Racun Yang Mengembara” karya Ghaniyyu berikut ini:

PUISIMU ADALAH RACUN YANG MENGEMBARA

malam tanpa lagu

lamun meragu

kaku,

bisu

 

aku tak ingin tunduk

oleh manis katakata

 

puisimu adalah racun yang mengmbara

tanpa lentera

menelisik menempati retak iman

yang mengambil jeda di celah sepi yang rekah menganga

 

Ada pula yang lebih memilih untuk menitikberatkan kelebihan puisinya pada keindahan bentuk dan rancang bangunnya (typography), sementara untuk diksi, frasa dan gaya bahasa yang digunakannya terlihat biasa-biasa saja. Hal semacam ini saya temui pada puisi-puisi karya Isela dan Zhibril Ababil.

Puisi-puisi karya Isela dan Zhibril Ababil sebenarnya menggunakan diksi, frasa dan gaya bahasa yang biasa saja. Namun mereka menggunakan bentuk dan rancang bangun yang sedemikian rupa hingga puisi-puisi mereka yang tampak biasa itu menjadi terlihat tak biasa. Seperti pada puisi Isela yang berjudul “Kau” yang dirancang menyerupai anak tangga. Atau puisi-puisi karya Zhibril Ababil yang sengaja dirancang dengan cara memenggal kata-kata dalam puisinya menjadi duahuruf-duahuruf. Meski tentu saja saya sebagai pembacanya dibuat agak kerepotan dan harus bersusah payah untuk bisa membaca dan menangkap isi seutuhnya dari puisi-puisi Zhibril Ababil ini.

Berikut ini saya kutipkan puisi karya Zhibril Ababil yang berjudul “Keras Angan”:

KERAS ANGAN

bu ta su ny ih it am

bi nt an gt ak tu mp ah

be rb is ik

di ri mb un aw an

ke lu g u an uj un gp an ah

ru nc in gk an

de nd am de nd am be ng is

ai rt ak su ci

la ut ma ra hp un

la ut ma ti

 

Puisi-puisi yang ada dalam antologi “Hikayat Kalam” yang diakui oleh Toto ST Radik -di bagian Prakatanya- selaku tutor yang membimbing keenambelas penyair yang karyanya termuat dalam buku ini. Bahwa antologi ini diterbitkan sebagai kenang-kenangan bagi para peserta Majelis Puisi Rumah Dunia, tentu saja belum bisa disandingkan dengan puisi-puisi karya para penyair senior sekelas Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Joko Damono atau Chairil Anwar. Tapi keberanian dan semangat mereka untuk menuliskan berbagai pengalaman lahir dan batinnya ke dalam bentuk sebuah puisi dan berani membukukannya patut kita apresiasi.

Saya percaya dengan lahirnya antologi puisi ini, kelak akan lahir jugalah para penyair yang akan meramaikan ranah perpuisian di tanah tercinta kita ini, tanah Banten.