Ali Sobri dan Harir Baldan saat acara talkshow di Festival TBM (Taman Bacaan Masyarakat) se-Indonesia

Oleh: Poetry Ann

“Tak ada yang mustahil di dunia ini” mungkin kalimat itulah yang akan terbersit dalam benak kita jika kita mendengar langsung pengakuan dari Miftahudin. Yang saat ini lebih sering dikenal dengan nama Harir Baldan, di acara talkshow yang diadakan di panggung utama Festival TBM (Taman Bacaan Masyarakat) se-Indonesia, sabtu (03/11) pukul 16.00 WIB lalu di Gedung Kementrian dan Kebudayaan, Senayan – Jakarta.

Dalam acara tersebut, Harir, begitu ia biasa di sapa, menceritakan kisah perjalanan dirinya meniti karir dari yang tadinya hanya penjual gorengan menjadi seorang wartawan di sebuah koran lokal harian Banten Raya Pos. “Awalnya, karena saya sering nongkrong untuk menjual gorengan dan sering membaca di perpustakaan Rumah Dunia. Setelah sering nongkrong di situ, melihat aktifitas para peserta Kelas Menulis saya jadi tertarik juga untuk mengikuti Kelas Menulis. Meski awalnya saya merasa malu dan minder, tapi karena tekad saya kuat untuk bisa menulis dan bergabung di Rumah Dunia akhirnya fase malu dan minder itu bisa saya lewati,” ungkap lelaki yang mengaku hobi sekali membaca berita tentang pertandingan bola ini.

Kesempatannya untuk menjadi wartawan mulai terbuka ketika Gol A Gong merekomendasikannya pada koran lokal harian Banten Raya Pos untuk mengisi posisi wartawan di daerah Cipanas. Tapi kesempatan yang diberikan oleh Gol A Gong tersebut tidak serta merta membuat karirnya di bidang jurnalistik berjalan mulus-mulus saja. Berbagai pengalaman pahit selama menjadi wartawan pun ia alami. Dari mulai harus tahan banting ketika Gol A Gong menggemblengnya di awal-awal karir kewartawanannya, sampai harus mengejar berita sambil juga harus menjual koran-koran Banten Raya Pos di daerah Cipanas yang notabene bermedan berat,  jauh dari perkotaan dan berpenduduk dengan penghasilan pas-pasan.

Bahkan ia mengaku matanya sempat berkaca-kaca menahan air mata ketika Gol A Gong memarahinya. Karena ia hanya mampu menuliskan satu paragraf berita yang harus ia tuliskan, dari waktu satu jam yang Gol A Gong berikan. “Ada kata-kata Mas Gol A Gong yang saat itu melecut semangat saya untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi wartawan. Yang sampai sekarang masih saya ingat betul. ‘Kamu itu nggak cocok jadi wartawan! Cocoknya jadi pedagang gorengan!'” cerita Harir, dengan semangat menggebu-gebu saat mengulangi kembali kalimat yang Gol A Gong lontarkan padanya.

Sebelum menjadi wartawan di koran harian Banten Raya Pos terlebih dahulu ia diberi kepercayaan untuk menjadi wartawan www.rumahdunia.net dan menjalani pekerjaan sebagai massager, alias pengantar pesan atau lebih tepatnya pengantar kaset BMC (Production House lini Rumah Dunia). Dari Rumah Dunia ke Banten TV di Kota Serang Baru dengan hanya menggunakan sepeda second yang dibelinya dari hasil jerih payahnya sendiri sebagai kendaraannya.

Berbagai kendala dan hambatan saat menjalankan tugasnya menjadi wartawan www.rumahdunia.net dan pengatar kaset BMC pun ia rasakan. Dari mulai susah payah menolak saat salah satu kepala sekolah dasar yang salah satu siswanya ia dan Ahmad Wayang (parnter-nya di www.rumahdunia.net) wawancarai ngotot memberi mereka amplop, hingga mengalami kecelakaan pada saat mengantar kaset BMC menuju Banten tv.

Tapi segala kendala dan rintangan yang dialaminya tersebut tak pernah membuatnya putus asa, justru malah sebaliknya. Segala kendala, rintangan dan pengalaman pahit yang dialaminya sebelum dan selama menjadi wartawan dijadikannya sebagai pelecut semangat dan bahan pembelajaran untuk memperjuangkan mimpinya yang lebih tinggi lagi. Yaitu menjadi wartawan olahraga koran harian nasional, Kompas.