Oleh: Poetry Karatan

Entah saya harus senang atau justru bersedih. Tapi hati kecil saya rasanya terus disesaki rasa kecewa dan sesal.

Pagi tadi, senin, 1 oktober 2012 kebetulan jadwal kerja saya masuk siang, sekitar jam 11-an. Tapi saya sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Saya berangkat pukul 08.00, sekalian ikut bapak agar mengirit ongkos ojek. Kebetulan juga hari itu sudah saya rencanankan untuk membeli buku “Celotehan Linda” karya Linda Djalil yang beberapa minggu lalu sudah saya incar ketika saya menonton acara 8-11 Show yang rutin ditayangkan di Metro Tv setiap pagi, yang kala itu memang mendatangkan langsung nara sumber yang tak lain adalah Linda Djalil perihal penerbitan bukunya, setelah malam sebelumnya alhamdulillah saya mendapat rizki yang saya kira akan cukup untuk membeli buku tersebut.

Dalam benak saya sudah terpampang kebahagiaan dan kesumringahan saat membayangkan bahwa hari ini buku itu akan berada di tangan saya. Tapi faktanya, satu jam kemudian saya justru kecewa, karena ternyata toko buku Tisera yang berada di Ramayana Mall Serang yang saya sambangi ternyata masih tutup. Ah, tak ada yang bisa saya lakukan kecuali mendesah.

Di tengah kekecawaan itu saya bahkan sempat merutuk dalam hati, kenapa Indonesia payah sekali! Pukul 9 sudah tertinggal setengah jam tapi toko buku belum buka! Bukan hanya itu, kota tempat saya dilahirkan ini pun tak luput dari rutukkan saya. Saya sangat menyayangkan mengapa di Kota Serang yang katanya ibu kota provinsi Banten ini tak memiliki toko buku sebesar toko buku Gramedia.

Tapi lagi-lagi seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tidak bisa melakukan apa-apa selain mendesah sambil mencoba menimbun rasa dongkol dalam hati. Ketika proses menimbun kedongkolan itu terjadi tiba-tiba saja ingatan saya terlempar pada sebuah tempat yang saya tahu menjual buku. Toko-toko yang berderet di kawasan Terminal Pakupatan. Tanpa berpikir dua kali saya langsung bergegas menuju tempat tersebut yang kebetulan juga dekat dengan tujuan saya berikutnya, yaitu kawasan UNTIRTA.

Tidak sampai setengah jam saya sudah sampai di deretan toko buku yang saya maksud tadi. Ternyata suasana di sini berbeda dengan suasana toko buku Tisera. Jika di jam-jam segitu Tisera belum buka, di deretan toko buku yang ini justru sudah sibuk melayani pembeli yang sebagian besarnya mahasiswa.

Saya pun masuk dan langsung menanyakan apakah buku “Celotehan Linda” sudah tersedia di tempat tersebut? Jawabannya lagi-lagi mengecewakan saya karena dengan sigap si pemilik toko buku tersebut langsung menggeleng sambil berkata “nggak ada”. Huft!

Tak mau terlalu kecewa karena pergi dengan tangan kosong akhirnya saya iseng melihat-lihat buku-buku apa saja yang ada di situ. Mudah-mudahan saja ada buku menarik yang bisa saya beli sebagai pengganti buku incaran saya. Dan sepenglihatan saya, rata-rata buku yang tersedia di toko buku yang letaknya di pinggir jalan tersebut adalah buku-buku terbitan Gramedia.

Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya tapi saya lupa judul-judulnya apa saja, termasuk komik second (Sekedar info, di toko buku-toko buku ini juga banyak dijual buku-buku dan komik second). Setelah memastikan buku mana yang akan saya beli, langsung saya tanya berapa harganya. Wow! Tahukah kamu? Ternyata harganya cukup murah! Jika harga yang si penjual tawarkan kamu anggap kurang murah, jangan hawatir, karena di toko buku ini ternyata harga yang sudah murah tersebut masih bisa kita tawar lagi agar menjadi lebih murah. Tentu kamu senang dong? Sama halnya seperti saya yang merasa senang bahkan merasa beruntung karena bisa mendapatkan dua buku bermutu dengan harga hanya Rp 55.000,- saja!

Tapi rasa senang itu kemudian kembali menjelma kecewa dan sesal begitu saya tahu -curiga lebih tepatnya- kalau buku yang saya beli itu adalah palsu alias bajakan. Oh, Tuhan…!

Kecurigaan saya itu mulai muncul saat saya sengaja mengirim SMS pada Kang Harir, yang pada hari sebelumnya mengirim SMS pada saya, yang isinya minta tolong nitip dibelikan buku “Kisah Lainnya” yang ditulis oleh para personil Noah yang belum lama ini launching, berbarengan dangan launching album terbarunya, jika saya tengah ke toko buku. Nah, kebetulan di situ mata saya menangkap buku yang dimaksud Kang Harir tadi terpajang dengan anggunnya di antara buku-buku lain yang juga tak kalah mempesona.

“Kang harir saya nemu nih buku kisah lainnya, mau titip ga?” SMS saya padanya.

Cukup lama Kang Harir tidak membalas sampai saya memutuskan untuk pergi saja dari toko buku tersebut. Tapi begitu niat pergi itu muncul, muncul jugalah SMS balasan dari Kang Harir.

“Yang asli ya soalnya kalo bajakan malu sama A Ariel cs”😀

Membaca SMS kang Harir tadi mata saya -juga hati saya- membelalak. “Emang ada bajakan ada asli gitu? Bedanya apa? Saya nggak tau ini asli apa bukan,” balas saya kemudian.

“Penerbitnya KPG, kertas dan covernya beda.”

“Pokoknya belinya di Gramedia aja jangan beli di pinggir jalan,” tambahnya lagi.

“Yang tadi saya liat juga KPG, tapi saya nggak jadi beli takut palsu. Saya baru tau buku ada yang palsu juga.”

Sampai di situ kecurigaan yang saya singgung di atas tadi mulai muncul. Saya biarkan otak saya bekerja sedikit lebih keras agar bisa menemukan jawaban apakah buku-buku yang ada dalam toko buku ini asli atau palsu. Kaki saya membawa kembali ke tempat di mana buku karya para personil Noah tadi tertata anggun meski sudah sedikit berdebu. Mata saya memelototi buku tersebut dari mulai cover hingga cetakan huruf-hurufnya. Hm, ternyata sepertinya memang ada sedikit kejanggalan. Kualitas cover dan cetakkan hurufnya, sepanjang yang saya amati, kurang terlihat apik dan terkesan murahan. Padahal kalau dipikir-pikir, mana mungkin penerbit sebesar Gramedia ditambah lagi personil Band Noah yang kita tahu sudah fenomenal itu mau mencetak buku dengan kualitas rendah seperti itu?

Ditambah lagi dengan harganya yang jauh dari harga yang ditawarkan di toko buku Gramedia. Beberapa kali saya pernah searching harga buku tersebut di mbah google, dan seingat saya harga buku tersebut seharusnya Rp 65.000,- tapi di situ dijual hanya dengan harga Rp 35.000,- bahkan masih bisa ditawar.

Sungguh, saya masih tak percaya. Apa iya buku juga dibajak?! Selama ini saya pikir hanya para musisi saja yang albumnya dibajak. Saya tak pernah berpikir bahkan mengetahui kalau ternyata buku-buku juga banyak yang dibajak. Sungguh ini keterlaluan! Lebih keterlaluannya lagi saya, secara tak sadar, pada saat itu juga telah membeli dua buku bajakan!

Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah hal sepele. Beli buku bajakan? So what gitu loh?! Tapi lain halnya dengan saya, yang sudah jelas-jelas secara sadar mencemplungkan diri ke dunia kepenulisan, yang tahu dan mengalami langsung bagaimana beratnya perjuangan seorang penulis untuk menghasilkan karya baik berupa cerpen, puisi, essai, novel atau apapun itu, tapi malah membeli buku bajakan yang sudah pasti akan merugikan bahkan akan melukai si penulis yang karyanya dibajak. Saat itu saya benar-benar tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya. Saya seperti dilemparkan ke sebuah kubangan lumpur yang di tengah-tengahnya terdapat tangan-tangan yang menjulur ke atas, yang bersiap mencengkram tubuh saya dan menenggelamkannya. Saya dinaungi rasa bersalah, saya merasa pada saat itu saya menjadi orang paling bodoh sedunia karena bisa dengan mudahnya dikelabui oleh buku bajakan. Tapi di sisi lain, sepenggal benak saya mengatakan bahwa hal ini bukanlah sepenuhnya kesalahan saya. Menyalahkan si penjual pun rasanya tidak tega karena mereka sendiri melakukan hal itu demi mencari nafkah untuk keluarganya, sama halnya seperti para mahasiswa dan orang-orang yang juga membeli buku bajakan tersebut. Mungkin bagi mereka harga buku itu jauh lebih ramah di kantong mereka yang pas-pasan. Ah, tapi tetap saja akibatnya saya jadi malas dan tak bersemangat untuk membaca kedua buku yang sudah saya beli tadi. Tapi juga tak mungkin dikembalikan.

Help me…! Tolong bilang sama saya dan tolong pastikan kalau kedua buku yang saya beli ini bukanlah buku bajakan, agar saya bisa tenang membacanya.😦