Oleh: Poetry Karatan

“Ciee Teteh tadi ngapain di UNTIRTA?”

Itu tadi SMS yang saya terima dari Dimar dua hari yang lalu, tepatnya hari kamis, 27 september 2012, sekitar pukul 20.45 WIB. Tuing! Tuing! Otak saya yang baru saja mau saya istirahatkan sontak kembali bekerja. Berbagai macam pertanyaan muncul di benak saya. Bagaimana bisa Dimar tahu saya berada di UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) tadi? Di mana dia melihat saya? Di halte depan UNTIRTA kah? Atau di Masjidnya? Atau di mananya? Kalau memang dia melihat saya tadi mengapa dia tak memanggil saya?

Ah, daripada pusing mikirin berbagai pertanyaan tadi tanpa mendapatkan jawabannya akhirnya saya balas SMS dari Dimar tadi.

“Ih, dirimu di mana emang? Kok, ngeliat dirikuuu… saya di situ gawe, hehe’”

Tak berapa lama Dimar membalas, “Aku tadi abis salat. Gawe? Gawe apa Teh?”

Hm, sampai di sini saya bingung mau menjawab apa. Saya jawab yang sebenarnya atau…? He’

“Salat di masjid UNTIRTA? Kok, nggak ketemu? Gawe nyikatin WC UNTIRTA. Hahaaa,” balasku.

“Aih seriuss?”

“Hkhkhk…!”

“Teh? Beneran? Kerjanya hari apa aja? Aku tuh hampir tiap hari ke UNTIRTA. Nanti kubantuin. Beneran nggak Teh?”

“Ih, ngapain hayooo ke UNTIRTA tiap hariii…? Ngapelin Salam? Kok, kita nggak pernah ketemu ya? Saya juga tiap hari ke situ. Ya udah besok bantuin yak, nyikatin WC cowok, gkgk…!”

“Jam berapa Teh?”

“Maunya jam berapa?”

“Ih, sumeh lah, saya seriuuuusssssssss…!”

“Hakhakhak… kalau gitu saya dua riuuus.”

“Ih, sumeh lah. Ya udahlah kalau nggak mau serius mah.”

“Ih, saya maunya Noah aja, Serius kan udah bubar.”

“Besok pulang kuliah saya SMS Teh Poetry,” paksanya kemudian. Hghg… saya rasa dia sudah dongkol.😀

“Okaylahkalaubegetuh… he,” balasku untuk terakhir kalinya.

Acara balas-membalas SMS pun usai sudah. Tapi setelah acara SMS –SMS-an selesai pikiran saya masih tersangkut di obrolan kami lewat SMS tadi. Pertanyaan baru pun muncul. Apa iya Dimar besok mau ke UNTIRTA lagi? Tapi tentu saja saya tak akan mendapatan jawabannya hingga hari esok itu tiba. Akhirnya, mau tak mau saya pun harus sabar menanti hari esok. Sahutan malam untuk mengajak saya ke alam mimpi pun tak bisa lagi saya tolak, dan malam pun menjelma menjadi pagi tanpa sepengetahuan saya.

Esoknya, jumat, 28 september 2012 sekitar pukul 16.32, ketika saya hendak salat ashar di masjid UNTIRTA, saat saya sengaja mengecek handphone saya yang sejak tadi pagi tak sempat saya sentuh, saya kembali mendapati SMS dari Dimar yang ternyata sudah menunggu sejak sejam yang lalu di inbox saya.

“Teteh aku udah mau pulang dari kampus. Gimana? Jam berapa Teteh ke UNTIRTA?” Itu SMS pertamanya.

“Teh Put, aku hari ini ada janji di UNTIRTA sama temen *bukan bang Salam. Serius nih, kalau mau nyikat WC aku temenin. Wkwkwk…! Soalnya biasanya kalau janji ketemu orang, orangnya suka ngaret. Terus aku melongo-longo sendirian aja di masjid UNTIRTA.” Itu SMS-nya yang kedua, dan dua-duanya baru saya baca saat saya berjalan menuju masjid.

“Huwaaa…! Sorry SMS-nya baru ketauan, saya baru mau menuju ke masjid UNTURTA,” balas saya segera.

Selang beberapa menit kemudian saya kembali mengirim SMS karena SMS yang tadi belum juga dibalas olehnya. “Heih, dirimu masih di UNTIRTA kan? Diriku lagi di masjid UNTIRTA nih, mau salat.”

Selang beberapa menit kemudian Dimar membalas, “ Belum. Aku mau ke UNTIRTA nungguin SMS balesan dari teh Poetry dulu. Masih lama nggak di situnya?”

“Sini buruan di masjid, saya nggak lama di sininya tadi cuma ijin mau salat doang. He!” SMS ini saya kirim setelah saya menyelesaikan salat.

“Di dalem yak, di tempat ceweknya,” SMS saya lagi, untuk memastikan.

Tak lama setelah SMS terakhir saya tadi Dimar pun muncul di ambang pintu masjid di sebelah yang biasa digunakan untuk tempat wanita salat. Awalnya hanya kepalanya saja yang muncul, lambat laun leher, bahu hingga keseluruhan badan lengkap dengan seragam AKPER (Akademi Keperawatan)-nya yang serba putih plus sweater  pun muncul. Hakhak…! Kayak hantu yak!😀

Kami berbincang sebentar. Saya memberitahukannya soal pekerjaan dan tempat kerja saya. Dia pun berniat untuk mampir ke tempat kerja saya setelah dia selesai bertemu dengan teman yang akan ditemuinya. Karena itu saya pun pamit dan kembali ke tempat kerja saya.

Menjelang Magrib, benar saja, dia muncul di tempat kerja saya. Lagi-lagi dia muncul seperti hantu. Mula-mula kepalanya terlihat di ambang pintu tempat kerja saya, lalu bahu kemudian keseluruhan badannya lengkap dengan seragam  kampusnya yang sudah saya singgung sebelumnya.

Lagi-lagi kami berbincang seru. Banyak sekali yang kita bahas hingga tak bisa saya tuliskan di sini semua, karena bila itu saya lakukan maka isi postingan blog saya ini akan puuaanjaaang dan saya hawatir kalau kamu membacanya akan bosan dan malah meninggalkan blog ini sebelum kamu selesai membaca cerita suka-suka saya ini.

Karena itu di sini saya hanya akan bilang kalau obrolan kita saat itu cukup seru dan bikin kita cekakak-cekikik. Tapi kegiatan cekakak-cekikik itu harus ikhlas kita akhiri untuk sementara waktu karena di luar sana adzan magrib sudah memanggil. Saya pun pamit untuk salat magrib sekalian pulang dari tempat kerja saya, meski kenyataannya setelah kita usai menunaikan salat magrib di masjid UNTIRTA saya tak langsung pulang seperti yang biasa saya lakukan. Saya dan Dimar melanjutkan keseruan obrolan. Dan di tengah-tengah obrolan seru itulah saya teringat pada vidio keluarga Upin-Ipin yang Yori berikan sebelum dia pergi ke Pare – Kediri untuk menjemput impiannya. Saya pun meminta Dimar untuk meng-copy-kan vidio yang kebetulan ada di netbook yang dibawanya ke flashdisk saya.

Karena penasaran ingin segera menonton isi vidionya saya meminta Dimar untuk langsung memutarnya. Tawa kami pun kembali pecah ketika vidio yang berisi Behind the Since kita putar untuk pertama kali. Di situ, adegan-adegan yang tak layak alias adegan-adegan gagal terpampang. Segala jenis ekpresi aneh, lucu dan konyol dari para anggota keluarga Upin-Ipin saat proses pembuatan vidio tadi benar-benar membuat perut saya dan Dimar terkocok, mual, hingga memuntahkan tawa yang sudah pasti menciptakan sedikit suasana gaduh di teras masjid UNTIRTA malam itu. Untungnya, pada saat itu tak banyak mahasiswa yang berada di situ, jadi sedikit kegaduhan yang kita ciptakan tadi pun tak banyak berpengaruh pada keadaan sekitar kita. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Sambil menonton vidio-vidio itu saya dan Dimar sengaja meng-SMS Yori berbarengan. “Cung, diriku di UNTIRTA lagi bareng Dimar ni…!” itu isi SMS saya, sementara isi SMS Dimar saya tak tahu apa. Mungkin kalau dia membuat cerita suka-suka versinya tentang kejadian ini kamu akan tahu apa isi SMS dia untuk Yori.

Selang beberapa detik kemudian Yori membalas, “Bareng Salam juga nggak?”

“Kita lagi nonton vidio Upin-Ipin.” Hkhkh… kalau diperhatikan, SMS Yori di  atas dengan SMS balasan saya ini benar-benar nggak nyambung ya? Yori nanya apa saya jawab apa.😀

“Jadi kangeeeen huwawaa…!” SMS saya lagi, sebelum Yori sempat membalas SMS saya sebelumnya tadi.

“Ohooo salamin geh Kak sama Dimar. Salam kangen juga sama Kak Poetry tu,” balas Yori.

“Salam balik katanyaaa. Kata Dimar dia cemburu yang dibales SMS-nya saya doang, hkhkhk…!”

“Sengaja Kaaaa, heee…!”

SMS kita pun terus berlanjut dan baru terhenti saat Dimar mengusulkan agar kita bertiga sama-sama OL. Yori menyanggupi usulan Dimar tadi, dan terjadilah insiden OL jayus.😀 Setidaknya itulah sebutan dari Dimar untuk acara OL bareng kita kali ini. Tahu kenapa Dimar menyebut acara OL bareng kita kali ini OL jayus?😀 Karena saya dan dia OL di netbook yang sama, yaaa netbook siapa lagi kalau bukan netbook Dimar…😀 Kala itu Dimar mengusulkan untuk posting di grup keluarga Upin-Ipin (Grup ini sengaja Yori buat sebagai salah satu sarana untuk menjembatani komunikasi antara para keluarga Upin-Ipin yang sengaja di-setting secret. Hanya keluarga Upi-Ipin yang bisa mengakses grup ini).

Dan hasilnya, saya pun posting “Walantaka dan Cimoyan bertemu di UNTIRTA” yang sebenarnya dapat ngetik Dimar-Dimar juga, yang kemudian sengaja dikomentari oleh Dimar.😀 jayus banget kaaan…!

Sampai di situ kita kembali cekakak-cekikik. Dan kali ini suara cekakak-cekikik kita itu saya yakin tak akan sama sekali mengganggu karena para mahasiswa/i yang sebelumnya ada di sekitar kita ternyata tanpa kita sadari sudah beranjak meninggalkan teras masjid itu satu persatu.

Sekitar pukul delapan malam lewat beberapa menit saya terpaksa harus memutuskan pulang. Lain lagi dengan Dimar yang memutuskan untuk tetap berada di situ dan menunggu temannya yang sebelumnya sudah janjian untuk urusan bisnis. Awalnya saya tak tega meninggalkan dia sendirian, takut ada yang nyulik ntar penculiknya minta tebusan dari saya. Beuuuh… kan berabe, gkgk…! Tapi setelah Dimar meyakinan saya kalau dia akan baik-baik saja akhirnya saya pun melenggang pulang sambil terus ber-SMS-an dengannya.

Walaupun fisik saya tak bisa menemaninya menanti temannya sampai datang, mudah-mudahan SMS saya bisa membuatnya tak merasa sendirian di situ.😀 Dan mudah-mudahan juga dia masih selamat sampai sekarang, karena SMS terakhir saya malam itu tak dibalasnya. Aih, jangan-jangan, jangan-jangan…?!

*Walantaka adalah tempat tinggal Dimar, sementara Cimoyan adalah tempat tinggal saya.