Oleh: Poetry Karatan

Rumah Dunia. Rumahku Rumah Dunia kubangun dengan kata-kata, tagline itulah yang akan selalu kita jumpai jika kita berkunjung ke website-nya Rumah Dunia. Begitupun jika kita berkunjung ke Rumah Dunia langsung. Kita akan menemukan banyak sekali kata-kata di sana, baik kata-kata yang diucapkan ataupun yang dituliskan. Kata-kata yang tak hanya indah dan bermakna tapi juga kata-kata yang penuh motivasi, pesan, kesan serta selalu membangun keberanian pada diri kita sendiri untuk mampu merangkai kata-kata itu menjadi sebuah bangunan yang juga nantinya bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Kata-kata itu berceceran di mana-mana. Di tiap sudut Rumah Dunia: di Surosowan, RB3 (Ruang Balai Belajar Bersama), halaman RB3 dan di panggung Rumah Dunia.

Enam bulan lebih saya bergabung di kelas menulis Rumah Dunia untuk belajar dan mengetahui banyak hal tentang dunia kepenulisan, dan banyak sekali yang sudah saya dapatkan di sana. Tak hanya mendapatkan pengetahuan tentang kepenulisan tapi juga mendapatkan banyak kawan, cerita dan pengalaman yang saya rasa tak akan pernah saya dapatkan di tempat lain karena saya yakin tiap tempat akan memiliki cerita, kisah dan kesan yang berbeda-beda. Mulai dari pengalaman saat mendapatkan materi dan praktek membuat berita, dimana saya diperkenalkan pada dunia jurnalistik dengan 5W1H-nya, materi dan praktek mengenai teknik, tips dan trik menulis cerpen dan novel yang baik agar mampu bersaing di media dan tentang bagaimana kita mampu membuka mata, pikiran, perasaan dan hati kita lebar-lebar dan seikhlas-ikhlasnya untuk dapat menuangkan peristiwa-peristiwa dan berbagai pengalaman fisik dan bathin yang kita alami lalu merangkaikannya dengan kata-kata terindah hingga menjadi sebuah susunan kalimat terindah dan menjelma menjadi sebuah puisi, juga mendapatkan pelatihan dan motivasi agar kita mampu menuliskan apapun termasuk catatan perjalanan.

Banyak sekali pengalaman berkesan yang saya alami di Rumah Dunia. Salah satunya saat saya dan beberapa kawan dari kelas menulis angkatan 19 ikut menghadiri acara “Nyenyore” yang rutin diadakan setiap bulan puasa yang kebetulan saat itu, tepatnya hari jumat tanggal 3 agustus 2012, agendanya adalah bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia” karya Daniel Mahendra. Acaranya berlangsung meriah dan seru, selain itu diadakan pula lomba “Ceritakan Tentang Ranselmu” yang mampu membuat semua yang hadir tertawa.

Setelah usai berbuka dengan takjil yang telah disediakan oleh Rumah Dunia dan salat magrib keseruan itu ternyata berlanjut ketika kami (saya, Yori, Irna, Dimar dan Yuli) diajak untuk ikut merayakan dan menikmati kue yang memang disediakan sebagai perayaan hari ulang tahun Bu Tias Tatanka (Penulis, isteri dari Gol A Gong).

Malam itu, saya, Yori, Irna, Dimar dan Yuli diajak gonjlengan (makan bersama dengan menu ayam bakar) bersama Gol A Gong, Tias Tatanka, Daniel Mahendra dan calon isterinya, juga beberapa relawan Rumah Dunia.

Sambil menikmati menu nasi, tempe bacem goreng, ayam bakar, lalapan dan sambal di atas beberapa helai daun pisang yang disusun memanjang itu terjadi obrolan dan diskusi santai di antara kami semua. Gol A Gong memberikan motivasi dan bercerita mengenai dunia kepenulisan dan tentang pengalamannya saat mengembara yang diakui untuk mencari kembarannya kepada saya dan kawan-kawan, karena beliau percaya bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini pasti memiliki kembaran dan ia belum bisa menemukan kembarannya itu sampai sekarang.

“Cobalah untuk menuliskan kejadian-kejadian kecil yang kalian alami. Apa saja, yang penting tulis saja. Nggak usah dulu berpikir tulisan kita bagus atau jelek, yang penting tulis. Jangan biarkan kejadian yang kalian alami terlewat begitu saja. Seperti contohnya sekarang, pengalaman gonjlengan ini bisa kalian tuliskan. Silahkan tuliskan, dari angle mana saja.” Itulah pesannya pada kami yang kemudian ditimpali oleh Yuli dengan menjawab “Dari sisi kebersamaannya” saat Gol A Gong bertanya apa saja angle yang kami bisa ambil dan kami tuliskan dari pengalaman gonjlengan tersebut. Sedangkan Irna menjawab akan menuliskannya dari angle saat kami berlima meributkan tentang cara membuat sambal saat kami ditugaskan untuk memasak di dapur karena ternyata kami memiliki versi masing-masing dalam membuat sambal.

Sementara saya malah terdiam. Mata saya justru tertuju pada Yuli yang saat itu dengan ringannya melontarkan kata “Kebersamaan” dan membuat saya kembali membayangkan kejadian dua jam sebelumnya, saat kami, kecuali Yuli, disibukkan dengan mengirim pesan dan menelpon orang tua masing-masing untuk meminta ijin menginap di Rumah Dunia.

Saat itu saya melontarkan pertanyaan yang akhirnya membuat Yuli bilang bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia masih kecil, dan selama ini neneknyalah yang merawatnya. Saya cukup terkejut dan sedikit merasa bersalah karena pertanyaan saya tadi mungkin telah menguak kembali kenangan dirinya dengan kedua orang tuanya, yang bisa saja malah membuatnya diliputi rasa rindu dan bersedih. Saya juga jadi berpikir apakah kata “Kebersamaan” yang dilontarkannya tadi berhubungan dengan pengakuan tentang kedua orang tuanya itu. Apakah ia tengah merasa rindu dengan kebersamaan dirinya dengan kedua orang tuanya itu? Saya rasa hanya dia yang tahu jawabannya.

Tapi yang jelas saya tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orang tua. Meski saya masih memiliki orang tua yang lengkap, setidaknya saya pernah merasakan saat-saat harus hidup tanpa kedua orang tua karena sebuah musibah yang kami sekeluarga alami beberapa tahun lalu, yang tak dapat dan tak mampu saya ceritakan dalam tulisan ini karena setiap kali saya mengingatnya saya pasti akan menangis. Dan itu rasanya cukup menyiksa. Saya yang saat itu terbiasa disediakan segala halnya oleh kedua orang tua tiba-tiba saja harus bisa menyediakan dan mengerjakan sendiri apa-apa yang saya butuhkan, mulai dari memasak sendiri saat lapar, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, mengepel lantai dan beres-beres rumah yang ternyata sungguh melelahkan. Tak hanya itu, saya pun didera rasa rindu. Rindu mendengar omelan Emak dan Bapak, rindu masakan Emak yang selama ini selalu memanjakan lidah saya, rindu saat-saat saya bertengkar dengan kakak dan adik saya, rindu saat-saat saya bisa bermanja-manja dan bersandar di pundak Bapak, rindu saat-saat kami berkumpul dan makan bersama seperti halnya gonjlengan malam itu di Rumah Dunia. Dan semua itu berlangsung selama satu tahun. Saya jadi berpikir bagaimana kalau semua hal itu terjadi selamanya seperti halnya Yuli saat ini. Ah, saya tak mau membayangkan itu.

Tapi yang jelas karena mengingat peristiwa tersebut saya justru jadi merasa bersyukur ketika mengingat kejadian satu jam sebelumnya, saat saya dan keempat kawan saya yang lain tengah memasak, saya disibukkan dan diganggu dengan SMS-SMS dan telpon dari bapak yang ternyata tak mengijinkan saya untuk menginap dengan alasan motor yang saya bawa akan dipakai pagi-pagi sekali. Nada bicara bapak yang lain dari biasanya, yang seolah-olah tak mau memberikan saya kesempatan memberikan alasan membuat saya tak mampu membantah dan akhirnya hanya bisa menjawab “Iya, iya, ntar pulang.” Padahal biasanya Bapak adalah orang yang selalu memberikan kami, anak-anaknya (saya dan adik-kakak saya) kebebasan dan selalu memberikan kesempatan pada kami untuk memberikan penjelasaan kenapa kami melakukan sesuatu. Tapi sepertinya malam itu ia sedang tak mau dibantah. Hingga meski saat itu saya bisa saja mengatakan kalau Bapak bisa memakai motor kakak, saya memutuskan untuk tak mengatakan itu.

Saya merasa bersyukur karena saat ini saya masih diijinkan untuk merasakan ribetnya harus meminta ijin dan diganggu oleh SMS dan telepon dari orang tua saat saya bepergian. Karena itu artinya saya masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang, perhatian dan kekhawatiran mereka terhadap saya, anaknya. Karena saya sadar suatu saat nanti saya pun akan merasakan ditinggal mereka untuk selamanya, seperti halnya Yuli dan anak-anak lain di luar sana. Yang sudah dipastikan ketika semua itu terjadi saya akan merindukan saat-saat mendapatkan omelan-omelan dan hal-hal lain yang kedua orang tua saya lakukan terhadap saya yang selama ini justru lebih sering saya anggap mengganggu, padahal semua itu mereka lakukan karena rasa sayang mereka terhadap saya, anaknya.

Tulisan ini sudah dimuat di www.rumahdunia.net