Oleh: Poetry Karatan

Setelah kurang lebih satu jam saya dan para peserta lain yang terdiri dari para anggota KEPALA (Keluarga Pecinta Alam) Serang, teman-teman kelas menulis dan para relawan Rumah Dunia, beberapa mahasiswa dari UI dan UGM menunggu di Rumah Dunia, sekitar pukul delapan pagi, jumat (6/4/2012) truk yang mengantarkan kami menuju perkampungan Baduy yang terletak di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, akhirnya berangkat juga. Kunjungan ke Baduy kali ini digagas oleh komunitas KEPALA untuk memperingati hari jadi KEPALA yang pertama.

Saya bersama teman-teman yang lain harus menempuh jarak yang cukup jauh dan cukup menantang untuk bisa sampai ke Baduy. Berangkat dari Rumah Dunia, Ciloang – Serang, hingga sampai ke Ciboleger menggunakan truk kami perlu waktu sekitar tiga jam labih. Berangkat sekitar pukul 08:00 sampai di Ciboleger sekitar pukul 11:12. Sesampainya di Ciboleger kami istirahat sebentar untuk shalat dan makan siang.

Saat sampai di ciboleger.jpg Turun dari truk saat sampai di Ciboleger

Patung Ciboleger.jpg Patung Ciboleger

Sambil menunggu yang laki-laki usai shalat jumat saya dan beberapa teman lain dari Rumah Dunia numpang istirahat sejenak di salah satu rumah warga Ciboleger yang kebetulan ada wc umumnya. Kebetulan pemiliknya adalah seorang ibu-ibu. Kami pun mencoba mengobrol dan mengakrabkan diri dengannya. Kami bertanya padanya tentang beberapa hal mengenai Baduy luar dan Baduy dalam. Ia pun menjawabnya dengan senang hati. Ia banyak memberikan informasi pada kami mengenai adat dan tradisi Baduy luar dan Baduy dalam. Selain memberikan informasi mengenai Baduy, si Ibu itu pun meperingatkan kami supaya jangan mojok, pacaran berduaan, melakukan hal yang aneh-aneh di sana. “Pokoknya mah, kalau di sana jangan pacaran berudaan aja, Neng. Jangan mojok. Soalnya ada beberapa kejadian pendatang yang mojok, pulangnya pasti digotong. Badannya dempet, ga bisa dipisah lagi,” terang si Ibu pemilik rumah pada kami. Terlepas dari itu hanya kebetulan, mitos atau memang benar ada kejadian seperti itu, minimal dengan cerita dari si Ibu tadi kami jadi bisa lebih berhati-hati bersikap dan bertindak selama berada di Baduy. Di rumah si Ibu itulah kami numpang makan bersama dan shalat duhur. Kami pun membeli sebuah tongkat kayu dengan harga Rp 2000-, darinya untuk kami gunakan pada saat berjalan menuju Baduy nanti. Karena menurut si Ibu tadi jalanan menuju ke Baduy pada saat hujan begini sangat licin, dan memang pada saat kami ke sana langit masih mendung dan tanah masih basah karena guyuran hujan sebelumnya. Jika kalian berkunjung ke Baduy nanti kalian pun akan menemui banyak penjual tongkat seperti itu di Ciboleger, yang kebanyakan penjualnya adalah anak kecil. Dan saya sarankan beli saja. Karena, selain kita sudah membantu para penjual tongkat cilik itu untuk mendapatkan penghasilan, tongkat itu pun sangat berguna dan membantu sekali pada saat kita menelusuri perjalanan menuju Baduy. Itu sudah saya dan teman-teman saya rasakan.

Anak-anak penjual tongkat.jpg Anak-anak penjual tongkat kayu di Ciboleger

Tepat pukul 14:00 kami semua disuruh berkumpul untuk memulai perjalanan kembali. Kami dibagi menjadi tiga kelompok secara acak hingga saya dan beberapa teman lain dari Rumah Dunia terpisah dalam kelompok yang berbeda. Saya sendiri masuk kelompok dua bersama Yori, Uki, Kang Wayang, Kang Salam dan Mas Pram.

Perjalanan kami dari Ciboleger sampai Baduy kami tempuh dengan berjalan kaki. Kelompok satu yang pertama kali berangkat, beberapa menit kemudian disusul oleh kelompok saya, kelompok dua. Beberapa menit berikutnya kelompok tiga menyusul. Panitia sengaja menerapkan sistem terpisah seperti itu agar kami tidak terlalu terlihat bergerombol dan memudahkan para panitia di tiap kelompok saat memantau kami.

Sepuluh menit di awal perjalanan medan yang kami tempuh masih biasa saja, masih aman terkendali. Tapi setelahnya medan yang kami lalui semakin berat. Jalanannya naik-turun, terjal dan sangat licin. Apalagi saat di tengah perjalanan, hujan yang tadinya hanya gerimis mendadak membesar dan cukup deras. Beruntung saya membawa persiapan jas hujan jadi bisa terhindar dari basah kuyup. Tapi, tetap saja tak bisa menghindar dari jalanan yang licin. Dengan beban tas di punggung yang lumayan berat kami harus berjalan super hati-hati agar tak terpeleset dan terjatuh meski akhirnya ada saja beberapa dari kami yang terpelset dan terjatuh. Tapi itu tak menyurutkan semangat saya untuk bisa segera sampai ke tanah Baduy. Sudah terbayang di pikiran saya kejernihan dan kesejukan air sungai di tanah Baduy saat kami melewati aliran anak sungainya yang menggoda saya untuk segera bisa terjun ke sana saat di tengah perjalanan.

Sungai dalam perjalanan.jpg Saat melewati sungai dalam perjalanan menuju Baduy

Setelah kurang lebih dua jam kami menempuh perjalanan dengan medan yang bisa dibilang menantang dan menegangkan akhirnya kami sampai juga di perkampungan Gazebo yang masih termasuk dalam wilayah Baduy luar. Di sana kami menginap di salah satu rumah warganya.

Setelah kami menaruh barang bawaan di penginapan, saya dan teman-teman yang lain dari Rumah Dunia bergegas menuju area jembatan untuk berfoto-foto. Kami juga sempat berfoto dan bertanya-tanya langsung dengan salah satu gadis Baduy yang kebetulan tengah menenun kain songket khas Baduy. Beberapa dari kami cukup kesulitan saat bertanya pada si Gadis Baduy tadi karena mereka berbicara dengan bahasa sunda. Saya sendiri tersendat-sendat ketika bertanya, karena jujur saja saya mengerti bahasa sunda, tapi kalau untuk berkomunikasi menggunakan bahasa sunda? Wasalam…! Kalau sedikit-sedikit sih, bisa.

Sebagai alternatifnya kami meminta tolong pada salah satu kawan kami yang mengerti dan fasih berbahas sunda, Pipit. Pipitlah yang mentransletkan beberapa pertanyaan kami pada si Gadis Baduy yang tengah menenun tadi. Tapi sayangnya, gadis Baduy yang tengah kami wawancarai tadi ternyata malah pergi meninggalkan kami. Entah karena memang malu atau malah terganggu dengan kehadiran kami yang terus bertanya dan meminta foto bersamanya. Akhirnya, wawancara kami berhenti sampai di situ.

Berpose di jembatan.jpg Jembatan Baduy di perkampungan Gazebo

Berpose di sungai bareng Fia, Yori dan kang Wayang.jpg Berpose di sungai Baduy luar (Gazebo) bersama Fia, Yori dan Kang Wayang

Lalu saya memutuskan untuk berfoto-foto di jembatan dan turun ke sungai. Menghampiri Yori dan Fia yang sudah lebih dulu berada di sana. Tapi, lagi-lagi keasyikan saya dan teman-teman lain harus terhenti karena ternyata kami berada di sungai dalam batas wilayah yang dilarang. Kami pun kembali ke penginapan. Sesampainya di penginapan kami ditodong oleh beberapa pedagang souvenir khas Baduy yang menawarkan barang-barangnya pada kami seperti: kain songket dan batik khas Baduy, kaos khas Baduy dan berbagai souvenir lain seperti gelang, gantungan kunci, kalung dan tas khas Baduy yang bisa dijadikan oleh-oleh setelah kami pulang dari sini.

Baduy memang terkenal dengan adat dan tradisinya yang selalu terjaga, tapi di zaman sekarang ini ternyata Baduy luar sudah mulai menggunakan barang-barang yang juga biasa kita gunakan. Misalnya, beberapa dari warganya sudah ada yang menggunakan pakaian kaos biasa seperti halnya kita, bahkan anak-anak kecilnya pun sudah banyak yang menggunakan kaos bola. Mereka juga sudah menggunakan barang-barang yang mengandung detergen seperti sabun, shampo dan sunlight. Bahkan, saya sempat heran saat melihat beberapa pemudanya sudah menggunakan handphone. Padahal di sana tak ada listrik dan sinyal.

Berbeda dengan Baduy dalam. Warga baduy dalam masih memegang teguh adat dan tradisi nenek moyangnya. Bahkan yang saya dengar dari beberapa warga Baduy luar dan Ciboleger yang sempat saya tanyai, Baduy dalam tidak diperbolehkan menggunakan barang-barang yang mengandung detergen seperti sabun dan pasta gigi, pakainnya pun masih benar-benar pakaian adat Baduy yang hanya berwarna hitam atau putih.

Malamnya, karena tak ada listrik kami terpaksa harus puas melewati segala kegiatan kami dari mulai shalat, makan malam bersama dan melakukan acara MAKRAB (Malam Akrab) yang sengaja diadakan panitia agar kami lebih saling mengenal satu sama lain, hanya dengan menggunakan cahaya kecil dari lampu tempel atau damar dan beberapa senter.

Dalam acara MAKRAB, para panitia dan peserta kunjungan ke Baduy diharuskan memperkenalkan diri satu persatu. Tapi tak semuanya kebagian memperkenalkan diri karena ternyata waktu yang sudah mulai larut tak memungkinkan kami untuk melanjutkan acara MAKRAB. Meski begitu kami cukup terhibur dengan adanya acara MAKRAB yang bisa sedikit membuat mata saya melek kembali setelah sebelumnya sempat mengantuk dengan adanya pembacaan puisi dari Yusa, salah satu peserta dari Jogjakarta, candaan dan celetukan lucu yang membuat kami tertawa pada saat acara MAKRAB berlangsung, juga saat pembagian souvenir dan door prize dari pihak panitia.

Esoknya, sabtu (7/4/2012), usai shalat subuh saya dan salah satu kawan saya, Irna, memutuskan untuk mandi di sungai karena kemarin sore kami tak sempat ikut mandi di sungai bersama Yori, Fia dan teman-teman lainnya. Rasanya tak lengkap kalau kita ke Baduy tapi tak merasakan segarnya sungai Baduy.

Meski sungai Baduy pagi itu kehilangan kejernihannya dan sedang pasang dengan arus yang cukup besar karena malamnya diguyur hujan, hal itu tak mengurungkan niat saya dan Irna untuk tetap nyemplung ke sungai Baduy di temani beberapa ibu-ibu warga asli Baduy luar.

Sekitar pukul 10:00 setelah kami semua sarapan bersama, kami melakukan penjelajahan. Kami menelusuri Baduy mulai dari penginapan hingga ke perbatasan Baduy dalam. Medan yang kami lalui pagi itu lebih terjal, licin dan berbahaya dari perjalanan kami sebelumnya. Untuk sampai ke perbatasan Baduy dalam kami harus menempuh perjalanan selama lebih dari tiga jam. Beberapa dari kami sempat berkali-kali terjatuh bahkan sampai ada yang hampir tergelincir ke bawah. Saya sendiri sempat merasakan terpeleset dan jatuh hingga celana saya lumayan belepotan lumpur. Rasanya menegangkan, terlebih saat menghadapi turunan. Bagi saya, jalanan yang menurun amatlah sangat menyebalkan karena jika tak hati-hati, dalam keadaan jalanan yang becek dan berlumpur seperti itu sangat besar kemungkinan bagi kami tergelincir dan terjatuh. Tapi mungkin juga di situlah serunya penjelajahan kami kali ini. Berjuang, bertahan, terpeleset, tergelincir dan terjatuh adalah bagian yang mungkin tak akan pernah dilupakan. Menjadi cerita seru ketika kami sudah meninggalkan tanah Baduy ini.

Penjelajahan 1.jpg Menjelajahi Baduy

Berpose di bukit baduy.jpg

Berpose di bukit baduy2.jpg Berpose di bukit Baduy saat penjelajahan

Sama halnya seperti kehidupan, ada hal yang menyengsarakan ada pula hal yang menyenangkan. Begitu pula dengan penjelajahan kami kali ini. Basah, becek, kotor, kehausan, tergelincir dan terjatuh mungkin menjadi hal yang menyengsarakan. Tapi di balik itu semua kami juga mendapatkan hal-hal yang menyenangkan yang bahkan bisa membuat kami tertawa gembira, saat melewati sungai yang bisa kami gunakan untuk membersihkan alas kaki kami yang tebal oleh lumpur, saat bisa berinteraksi langsung dengan beberapa warga Baduy yang rumahnya kami singgahi untuk melepas lelah sejenak dan menyediakan kami air minum. Baik sekali mereka.

Selain itu ada pula hal menarik dan lucu yang kami temui dalam perjalanan kembali menuju penginapan yang membuat kami tertawa lepas dan sempat lupa dengan kelelahan yang mendera saat perjalanan kami terhenti karena terhalang oleh beberapa anak kecil, warga asli Baduy, yang tengah asik bermain bola dengan tubuh telanjang bulat dan terbalut lumpur. Lucu sekali mereka. Mereka berkali-kali terjatuh saat berebut menendang bola yang sudah kempes karena permukaan tanah yang menurun dan licin. Bahkan beberapa dari kami, Kang Salam, Dasuki dan Kang Kiwil yang menyaksikan pertandingan para pesepak bola cilik itu ikut meramaikan dengan cara mencoba seolah mereka menjadi komentator pertandingan sepak bola yang membuat suasana semakin seru dan lucu.

Pesepak bola cikil Baduy.jpg Menyaksikan permainan para pesepak bola cilik warga asli Baduy

Sayangnya, dalam penjelajahan kami menelusuri Baduy kali ini kami tak bisa sampai masuk hingga ke Baduy dalam karena kebetulan Baduy dalam saat itu sedang melaksanakan kawalu (upacara setelah panen warga Baduy) yang tak memperbolehkan para pendatang seperti kami masuk ke wilayah mereka hingga kawalu selesai (kawalu berlangsung selama 3 bulan). Jadi kami harus puas hanya sampai di perbatasan Baduy dalam. Mungkin lain kali kami bisa kembali ke sini dan menaklukan Baduy hingga Baduy dalam.

Dalam perjalanan pulang kembali ke penginapan kami bertemu dengan seorang pedagang kaos dan kain khas Baduy yang sudah sering keluar masuk perkampungan Baduy yang menunjukkan kami jalan pintas agar bisa lebih cepat sampai ke penginapan. Ia pun menjadi penunjuk jalan bagi kami. Bahkan ia membantu kami saat sebagian besar dari kami kesulitan melewati medan jalan yang ternyata lebih sulit dan licin karena harus melewati jalanan menanjak dan menurun penuh rawa.

Sekitar setengah jam lebih kami menyusuri jalan pintas akhirnya kami sampai juga di perkampungan Baduy luar. Di kampung Cicakal Leuwi Buled kami memutuskan untuk beristirahat sejenak melepas ketegangan dan kelelahan saat perjalanan tadi. Di kampung ini pula kami sengaja mengobrol dan melakukan interview dengan Pak Pulung, salah satu warga kampung Cicakal Leuwi Buled untuk bisa mengetahui lebih banyak hal lagi tentang adat dan tradisi Baduy dari mulai tradisi upacara-upacara adat, tradisi pernikahan dan pemakaman di sana sampai soal agama dan pendidikan yang ternyata baru saya tahu kalau masyarakat Baduy anak-anaknya dilarang bersekolah. Tapi hebatnya, beberapa warga di sana mampu membaca dan menulis meski mereka tak mengenyam bangku sekolah. Dari Pak Pulung juga lah kami mengetahui jumlah keseluruhan perkampungan yang ada di Baduy. “Baduy itu semuanya ada 58 kampung. Di Baduy luar ada 55 kampung sementara Baduy dalam 3 kampung yang masing-masing dipimpin oleh seorang Jaro (semacam kepala desa),” terang Pak Pulung saat ditanya berapa jumlah keseluruhan perkampungan yang ada di Baduy.

Interview bersama Pak Pulung.jpg Mengobrol sambil interview bersama Pak Pulung

Setelah puas bertanya jawab dengan Pak Pulung, kami pun mohon diri untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju tempat penginapan. Sekitar pukul 16:30 kami akhirnya sampai di penginapan. Namun, perjalanan kami tidak selesai sampai di situ. Karena setelah kami beristirahat sejenak dan membereskan barang bawaan, sekitar pukul 17:30 kami kembali melakukan perjalanan untuk pulang dari Gazebo menuju Ciboleger. Kami terpaksa buru-buru pulang karena takut kemalaman di jalan. Benar saja, yang kami takutkan terjadi juga. Kami menulusuri jalan menuju Ciboleger dalam keadaan gelap gulita diiringi suara-suara hewan yang entah apa namanya, suaranya mirip suara jangkrik. Hanya cahaya dari lampu senterlah yang menerangi perjalanan kami. Bisa dibayangkan kan bagaimana rasanya harus menelusuri jalanan yang terjal dan licin dengan beban tas di punggung yang cukup berat dalam keadaan gelap gulita? Kami harus benar-benar ekstra hati-hati agar tidak terjatuh atau terjerembab ke jurang yang bisa saja tak terlihat saking gelapnya. Selangkah demi selangkah kami menapaki jalanan terjal itu, alhamdulilallah, akhirnya, sekitar pukul setengah delapan malam kami sampai di Ciboleger dalam keadaan selamat. Akh…! Rasanya lega sekali saat mengetahui kami sudah sampai.

Di Ciboleger kami istirahat sejenak untuk membeli minum di sebuah warung makan. Setelah itu saya dan beberapa teman lain dari Rumah Dunia memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan setelah sebelumnya melapor pada salah satu panitia dari KEPALA. Kami kembali singgah di rumah ibu-ibu yang saat berangkat sebelumnya rumahnya kami tumpangi untuk shalat. Malam itu kami pun kembali menumpang shalat dan beristirahat sejenak, sekedar untuk mengendurkan otot-otot kaki kami yang terasa pegal.

Sekitar pukul 20:30 kami berkumpul kembali menuju truk dan perjalanan pulang pun dimulai. Cahaya bulan purnama yang memancarkan sinar terang dan indahnya malam itu menerangi dan mengawal perjalanan kami menuju Serang.

Sebelumnya sudah diposting di www.rumahdunia.net

Posted by Wordmobi