Rak Buku Multifungsi

 

Celana-celana jeans yang sudah nggak layak pakai yang kamu miliki jangan lekas dibuang. Celana-celana jeans itu masih bisa berguna. Eits, bukan buat dijadikan pengganti keset, tapi untuk dijadikan pengganti rak buku yang bisa nempel manis di dinding. Rak buku yang nggak cuma berfungsi untuk menyimpan buku, tapi juga bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang kecil lain semisal flashdisk, kabel data, sisir, penggaris, gunting, pulpen, lipgloss, gantungan kunci dan pernak-pernik lain.

 

 

Selain celana-celana jeans, botol-botol bekas kemasan shampo dan bekas mainan anak juga bisa dimanfaatkan untuk membuat rak buku dengan fungsi yang sama. Kamu cuma perlu mempersiapkan beberapa bahan yang mudah kamu temukan di rumahmu seperti berikut ini:

  • Celana jeans yang sudah nggak layak pakai, botol-botol bekas kemasan shampo dan bekas mainan anak-anak, dan busa sisa barang elektronik.
  • Gunting
  • Double tip
  • Paku ukuran kecil dan ukuran panjang 7 cm atau 12 cm

 

Untuk membuat rak buku dari celana-celana jeans nggak layak pakai, kamu tinggal menggunting celana-celana jeans tersebut sebatas paha, kemudian paku kedua ujung bagian pinggangnya dengan paku berukuran kecil ke dinding. Celana jeans yang menghadap muka boleh celana bagian depannya atau bagaian belakangnya. Tinggal disesuaikan, bagian yang masih tampak bagus bagian depan atau belakangnya. Setelahnya, tempelkan double tip (disarankan menggunakan double tip dengan ukuran lebar supaya daya rekatnya lebih kuat) pada ujung bagian paha yang tadi sudah dipotong. Lalu lipat ke belakang hingga double tip bagian sebelahnya menempel pada dinding. Tekan-tekan bagian tadi supaya ujung bagian paha yang sudah ditempeli double tip tadi merekat sempurna pada dinding. Selesai. Rak buku sudah bisa digunakan.

Untuk membuat rak buku dari botol-botol bekas kemasan shampo, bekas mainan anak-anak dan busa bekas alat elektronik, jauh lebih simpel. Kita hanya perlu memakunya menggunakan paku berukuran panjang 7 cm atau 12 cm. Memakunya jangan sampai full. Agar bagian paku yang menonjol keluar bisa kita manfaatkan sebagai gantungan untuk menggantung gantungan kunci, kunci motor, flashdisk, dan barang lain yang memungkinkan.

Gimana? Mudah kan? Selamat mencoba! ^^”

 

 

 

 

 

Lakukan Saja Dulu, Minta Maaf Kemudian

Seseorang curhat pada saya bahwa dia ingin banget jadi penulis, berkegiatan di dunia kepenulisan, tapi orang tuanya nggak mengizinkan. Alasannya klise, seperti yang sudah sering saya dengar dan sepertinya banyak dialami para penulis pada umumnya: soal materi, soal pandangan orang lain yang masih menganggap menulis itu “apa siiih?”, kerjaan orang nganggur teu puguh tea istilahnya mah. Menulis dianggap belum bisa menjamin kehidupan seseorang, apa lagi kalau mereka punya pasangan nanti.

“Padahal pengin bangeet. Soalnya kalau ngeliat kamu itu, sebagai penulis (asyeeeeek udah dianggap penulis), walaupun nggak banyak uang, keliatannya tuuuh seneeeng aja.” katanya. Lalu dia bertanya apakah orangtua saya mendukung sepenuhnya pilihan saya sekarang.

Saya katakan kalau kedua orangtua saya juga dulu sama begitu. Cuma saya mah Lanjutkan membaca “Lakukan Saja Dulu, Minta Maaf Kemudian”

Tuliskan Apa yang Kamu Pikirkan (Repost)

 

Saya kira saya sudah mulai bisa memetakan kondisi hati dan perasaan yang abstrak ini. Serupa menghadapi bayangan. Ketika saya berusaha menyakiti bayangan tersebut, bukan bayangan itu yang merasakan sakitnya, tapi diri saya sendiri. Ketika saya berusaha menghindari bayangan tersebut, bayangan tersebut terus mengikuti. Saya tak bisa sepenuhnya lepas dari bayangan itu. Dan ketika saya memilih diam saja, tak melakukan apa pun, bayangan itu pun melakukan hal yang sama. Saya pikir dia, bayangan itu, sama tolol dan pengecutnya seperti saya.
=================================================================

Pagi tadi, saya menerima sebuah pesan yang isinya begini: Teh, gimana sih ngeluarin isi kepala dalam kata tuh? Susah bener perasaan. Hhihiii.

Maksudnya mungkin “mengeluarkan isi kepala ke dalam tulisan”.

Pesan itu saya terima dari Lanjutkan membaca “Tuliskan Apa yang Kamu Pikirkan (Repost)”