LUKISAN DALAM BINGKAI JENDELA

Posted: 20 Juli 2013 in Cerpen

Oleh: Poetry Ann

 

 

Seperti biasanya dirimu selalu berdiri di situ. Di bingkai jendela yang kini sudah tak berdaun dan mulai rapuh dengan tubuh berbalut handuk seusai mandi.

Tiap kali dirimu berdiri di bingkai jendela itu mulutmu selalu menggumamkan sesuatu.

Sepuluh tahun silam, saat matamu baru mampu menggapai apa yang bisa dilihat dari bingkai jendela itu dengan kaki berjinjit, kata pertama yang dirimu gumamkan adalah kata “wah” dengan mata membelalak takjub dan senyum lebar. Hingga dirimu terus berdiri di situ dengan mulut yang terus berdecak.

Meski kakimu sudah protes karena mulai kelelahan akibat terus berjinjit, dirimu tak peduli. Matamu terus tertahan di sana. Di lukisan yang terpampang indah di balik bingkai jendela. Lukisan yang hanya bisa dirimu lihat bagian teratasnya saja.

Ya, mata almond-mu belum bisa menjangkau landscape keseluruhan lukisan di bingkai jendela tersebut. Deretan puncak gunung yang hijau, awan putih yang tampak seperti gumpalan-gumpalan kapas dengan burung-burung yang berseliweran di atasnya, dan sebuah bola besar yang cahayanya terasa hangat saat menyentuh keningmu. Hanya itu yang mampu dirimu lihat. Tapi mampu menahanmu sampai suara panggilan ibumu terdengar dari balik pintu, mengingatkanmu untuk segera menyelesaikan ritual mandimu karena sudah terlalu lama dirimu berada di sana. Lalu dengan sangat terpaksa mata almond-mu melepaskan lukisan itu dari pandangannya dan dengan lincah kaki mungilmu bergegas keluar.

Hari-hari berikutnya dirimu terus mengulang kegiatan memandangi lukisan itu dari balik bingkai jendela tiap kali selesai mandi. Sambil terus bergumam mengaguminya dan berharap dirimu bisa lebih cepat tumbuh tinggi agar dapat melihat permukaan lukisannya secara keseluruhan. Dirimu sudah tak sabar ingin segera menyibak misteri keindahan apa lagi yang tersembunyi di bawah barisan puncak gunung dan gumpalan-gumpalan awan putihnya.

Tak ada yang bisa mengusik pandangan matamu dari sana, kecuali suara panggilan ayah atau ibumu. Atau suara pertengkaran mereka yang sering terdengar dari salah satu sudut ruangan dalam rumah mungilmu ini. Rumah yang hanya terdiri dari satu kamar tidur, ruang depan, dapur dan kamar mandi yang dinding-dindingnya belum terplester sepenuhnya. Dengan atap yang memiliki lubang di beberapa bagiannya, hingga air hujan bisa seenaknya menyusup masuk, merembes, menetesi lalu membentuk palung-palung mikro di lantai dapur yang masih beralaskan tanah.

Waktu terus berubah. Usiamu kian bertambah. Tubuhmu semakin meninggi seiring dengan kian meriapnya permukaan lukisan yang dapat mata almond-mu tangkap dari bingkai jendela itu. Lukisannya tak lagi hanya menampakkan keindahan puncak gunungnya yang hijau berderet atau awan putihnya yang bergumpal-gumpal, tapi juga menampakkan keseluruhan badan gunungnya yang bertingkat-tingkat layaknya anak tangga. Petakan sawah yang menguning melingkari kaki gunungnya, sementara kali kecilnya yang berkilatan mengalir dengan arus yang begitu tenang.

Decakkan kekagumanmu pun lebih sering terdengar ketika mendapati betapa megahnya keindahan lukisan itu meski sesekali diselingi dengan gerutuan atau keluhan satir. Seolah-olah dirimu tengah mengadu kepada lukisan agung itu. Atau mungkin, dirimu memang tengah mengadu dan mengeluh pada Sang Pencipta lukisan agung itu?

Suatu pagi, sebelum dirimu mandi. Setelah selama sepekan dirimu tak terlihat di situ, di bingkai jendela itu. Entah ke mana. Dirimu menyempatkan diri untuk melongok kembali lukisan dalam bingkai jendela tersebut. Air mukamu menyiratkan kerinduan yang sungguh. Tapi seketika itu juga mata almond-mu menggenangkan air mata. Mulutmu menggumamkan sesuatu yang menyatakan kekecewaan.

Lukisan itu tampak berbeda. Warna hijaunya sedikit pupus. Warna awannya yang putih bergumpal-gumpal kian kelabu. Semburat jingga bola besarnya tak lagi menawan, kehangatannya terasa sedikit lebih menusuk saat jatuh menimpa kulitmu. Petakan sawahnya kini tak lagi memamerkan warna kekuningan yang menyiratkan kesuburan. Pun dengan kalinya, airnya kian mengeruh meski arusnya masih tampak tenang.

Dirimu bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Apakah Sang Pencipta lukisan yang sengaja menambahkan cat-cat minyaknya. Tapi dirimu tak suka. Dirimu lebih menyukai lukisan sebelumnya. Lukisan sebelum ditambahkan warna-warna yang menyiratkan kekelaman.

Lenguh kedongkolan menguasaimu. Dan kian bercokol tatkala gendang telingamu menangkap suara gaduh yang disusul umpatan-umpatan yang sudah sangat familiar karena hampir di sepanjang hidupmu selalu mendengarnya.

Umpatan-umpatan yang hampir setiap hari keluar dari mulut kedua orang tuamu jika bertengkar. Pertengkaran yang biasanya dipicu kemurkaan ibumu terhadap ayahmu yang selalu pulang dini hari dalam keadaan mabuk berat. Padahal penghasilannya sebagai sopir angkot tak pernah bisa menutupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

Ibumu menuduh kalau-kalau penghasilan ayahmu itu diselewengkan untuk wanita idaman lain di luar sana, selain juga untuk air api yang sering dikonsumsinya. Yang membuahkan sangkalan dan kekesalan dari ayahmu karena ia merasa tak pernah melakukan apa yang dituduhkan ibumu. Tak jarang ayahmu berbalik menuduh kalau justru ibumulah yang boros, tak pandai mengatur keuangan dan matrealistis.

Kejadian saling tuduh dan saling sangkal yang tak pernah berakhir damai itu membuat pertengkaran keduanya kian hari kian menjadi dan berakar, dan tak pernah bisa diselesaikan. Yang akhirnya mengendap di relung hatimu. Menyiksa batinmu. Menggerogoti kepercayaan dirimu dan merusak mentalmu. Sementara dirimu tak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.

Dan pagi ini, dirimu kembali terpekur. Menatap sendu lukisan yang kini berubah semakin parah. Perubahan yang menyelipkan kegetiran. Lukisan agung yang dulu membuatmu menggumamkan kekaguman setiap kali memandanginya, kini malah membuatmu bergumam pedih. Bukan hanya karena penambahan warna yang membuat lukisan itu justru bertambah buruk, tapi juga karena ketakmampuan dan ketakberdayaanmu menghalangi tangan-tangan yang telah lancang secara serampangan menyapukan kuasnya ke lukisan agung itu. Hingga bukan menjadikannya lukisan yang lebih molek tapi malah menjadikannya lukisan yang centang-perenang.

Ya, lukisan itu kian rusak! Deretan gunungnya tak lagi berulas hijau melainkan cokelat kerontang. Gumpalan awan putihnya kian berubah kelabu. Cahaya bola besarnya semakin melecutkan panas mencekat. Petakan sawahnya makin kehilangan tanda-tanda kesuburan. Begitupun dengan kalinya yang kini berubah kian keruh dengan arus yang tak lagi mengalir tenang menghanyutkan, melainkan tenang karena alirannya tersumbat oleh tumpukan benda berbagai rupa dan warna.

Kepedihanmu kian menjadi ketika suara gaduh piring-piring pecah dan berbagai benda yang entah apa itu dibanting dengan demikian kerasnya hingga berkelontangan. Disusul hujatan dan makian-makian tajam yang merajam, yang keluar dari mulut berbeda, bersahut-sahutan dengan lantang bagai gonggong anjing yang siap saling terkam dan baku hantam hingga memekakkan jantung dan gendang telinga.

Biar begitu kali ini dirimu tak acuh. Tak sedikit pun kakimu bergeser dari sana. Dengan kepala layu, dengan bahu berguncang menahan tangis, dengan kedua tangan menyumpal telinga, dirimu tetap tertahan di bingkai jendela. Berusaha untuk tak mendengar dan tak peduli pada pertengkaran yang tengah berlangsung. Pura-pura tak peduli tepatnya. Karena sekuat apa pun dirimu tak mengacuhkan, suara hingar-tengkar kedua orang tuamu tetap tak dapat kau hindari.

Sampai suara erang kesakitan disertai jerit histeris melengking menyentakmu. Kemudian hening tiba-tiba menyeruak. Hening yang tak biasa. Bukan hening berhawa kedamaian atau pun hening pertanda diakhirinya peperangan. Tapi hening yang terasa menusuk dan mencekam. Ada perasaan tak beres menyerbu dan mengusikmu.

Beberapa detik kemudian suara isak tertahan menyusul. Dirimu semakin yakin, keheningan kali ini sungguh tak biasa! Mata almond-mu terkesiap. Terhenyak. Lalu bergegas menuju sumber keheningan.

Kini, air matamu tak hanya menggenang. Tapi tumpah meruah, mendobrak pertahanan kelopak mata almond-mu hingga mengebaskan pipi. Kemudian bahumu berguncang kian kuat. Bibirmu bergeletar hebat melawan tangis yang telah pecah. Kakimu mendadak layu. Lembek. Serasa berubah menjadi agar-agar hingga tak lagi mampu menopang tubuhmu dan terduduk pasrah dengan jantung mencuat, melompat keluar dan hilang saat tahu penyebab keheningan tadi.

Di sana, ibumu terduduk lemas di lantai beralas tanah dengan isak tangis dan jerit penyesalan. Tangannya gemetaran menggenggam sebilah pisau dapur berlumur darah. Dengan wajah yang masih meninggalkan sedikit cipratan nafsu tak terlawan di hadapan tubuh suaminya yang terbujur kaku dalam keadaan mengerikan. Matanya melotot. Mulutnya menganga. Sementara darah terus mengucur di bagian perutnya, yang membuat baju hitamnya semakin tampak kelam. Sekelam pagimu hari ini. Sekelam lukisan dalam bingkai jendela.

 

 

*Cerpen in sudah dimuat di majalah Surosowan edisi Maret 2013

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s