MEMBERI KRITIK DAN SARAN APAKAH HANYA PANTAS UNTUK SANG AHLI?


Oleh: Poetry Karatan

Hai kawan! Pernahkah kamu meminta atau malah memohon saran dan kritik atas sebuah tulisan yang telah kamu buat, entah itu berupa cerpen, artikel atau apapun tapi tak ada satupun orang yang memberikannya? Tak digubris, dicuekin, atau hanya diberi cap jempol alias “LIKE”?

Lalu apa yang kamu rasakan? Kecewa? kesal? Merasa diri kita bukan siapa-siapa? Makanya orang-orang pun nyuekin kita? Siapa sih saya? Atau malah berpikir ah, masa bodoh? Atau sempat berpikir untuk mencoba bunuh diri? Gkgkgk…! Saya rasa untuk yang terakhir rasanya lebay banget ya. Nggak segitunya kallliii…!

Kalau saya pribadi pasti kesal dong…! Kita sudah berusaha membuat sebuah tulisan dan mengharapkan orang lain memberikan apresiasinya. Sudah meminta, memohon supaya dikasih saran atau kritik yang bisa memberitahu kita dan menyadarkan kita di mana letak kesalahan dan kekurangan karya kita. Berharap dengan saran-saran dan kritikkan tersebut kita bisa lebih baik lagi membuat sebuah karya ke depannya. Eh, ternyata malah dicuekin alias dikacangin!

Ada beberapa faktor yang membuat orang lain atau malah diri kita sendiri enggan memberikan saran, masukan atau kritik. Diantaranya:
– Merasa diri kita juga sama-sama belum bisa atau belum ada apa-apanya.
– Bisa/tahu tapi malas berkomentar.
– Merasa saya belum ahli di bidang ini, biarkan orang yang lebih ahli saja yang melakukannya.
– Merasa yang meminta saran dan kritik lebih pakar dari kita.
– Berpikir, ah, masa bodoh! Emang dia siapa?
– Faktor berikutnya silahkan tanya pada diri masing-masing. Hee…

Beberapa kali, malah bisa dibilang sering saya mendapati kasus para penulis pemula seperti saya men-tag catatannya di fb ke beberapa teman atau menuliskannya di blog kemudian men-share tulisannya dengan memberi catatan “Tolong kasih saran dan kritiknya ya…”, tapi sama sekali tak ada yang memberikan apa yang dia minta selain “LIKE”. Atau ada yang memberikan apa yang dia harapkan itu tapi hanya satu atau dua orang. Yah, lumayanlah dari pada tak ada sama sekali, iya kan?

Rasanya miris! Karena secara sadar atau tidak, kita (dalam hal ini anggap diri kita adalah orang yang dimintai saran dan kritik) telah membiarkan orang/teman kita untuk tetap berkubang dalam kesalahan, membiarkan dirinya kembali melakukan kesalahannya di karya-karya dia yang berikutnya karena kita tidak berusaha memberitahu apa kesalahan dia yang kita tahu dan kita rasakan dalam karya-karyanya setelah kita membacanya, karena kita berpikir “Saya juga masih belajar. Belum pantas memberi saran atau kritik”. Yang kemudian membuat sebuah pertanyaan muncul dibenak saya. Apakah memberi saran dan kritik hanya pantas untuk sang ahli?

Saya rasa tidak. Karena kalau menunggu sang ahli memberikan saran dan kritiknya berapa banyak orang yang akan tetap berada dalam kesalahan yang sama sebelum akhirnya dia menemukan sang “Ahli” tersebut?

Saya rasa tak ada salahnya juga kita yang merasa belum ada apa-apanya ini memberikan saran yang dirasa perlu untuk kita ungkapkan kepada orang yang membutuhkan saran atau kritikkan kita. Toh tidak ada peraturan tertulis atau undang-undang yang menyatakan “DILARANG BERKOMENTAR UNTUK YANG BALUM AHLI!” iya kan?

Memang sih, dengan kita memberikan saran atau kritikkan yang dia minta terkadang membuat kita juga terkena dampaknya. Saya pernah merasakan hal ini.

Saya beberapa kali mengungkapkan saran dan kritikkan terhadap beberapa tulisan teman-teman saya yang memang meminta saran dan kritikkan. Saya juga pernah aktif memberikan saran dan kritikkan di tiap sesi bedah karya dalam sebuah grup di mana saat itu saya sendiri masih tergabung dalam jajaran adminnya. Dan keaktifan saya memberi respon, masukan dan kritikkan itu ternyata membuat saya harus menanggung dua predikat. Pertama saya dianggap “Jago” oleh beberapa orang dan kedua saya juga dianggap “Sok Jago” oleh beberapa orang yang lain. Dan asal tahu saja, bagi saya keduanya sangat tidak saya suka dan benar-benar tidak menyenangkan, karena keduanya memiliki beban yang sama-sama berat untuk saya pikul.

Saya tidak suka dianggap “Jago”, sudah ahli, sudah paham betul, atau apapun itu yang intinya mereka menganggap saya lebih baik dari mereka. Karena sejujurnya dan sebenarnya saya pun sama seperti mereka-mereka yang menganggap saya “Jago”. Saya masih pemula, saya juga masih perlu banyak belajar dari siapapun termasuk dari orang-orang/teman-teman yang karyanya pernah saya kritik dan saya kasih masukan. Malah mungkin, orang yang meminta saran dan kritikkan itu justru lebih ahli dari saya. Karena itulah saya terkadang jadi merasa malu sendiri, istilah kerennya jadi nggak enak body dibilang “Jago” yang ujung-ujungnya malah membuat diri saya tak nyaman dengan predikat tersebut.

Tapi saya juga tidak suka kalau dibilang “Sok Jago”. Karena tujuan saya memberi saran, masukan dan kritikkan adalah murni karena saya ingin berbagi atas apa yang saya ketahui dan yang saya rasakan terhadap karya yang saya baca. Sama sekali tak ada niatan ingin dianggap lebih menonjol atau ingin dianggap hebat.

Dan karena kedua dampak yang saya dapatkan itu jugalah saya sempat merasa tak lagi nyaman memberi masukan atau kritikkan terhadap karya-karya orang lain hingga beberapa bulan yang lalu saya sempat mengambil keputusan untuk tak lagi melakukan semua hal itu. Saya jadi memilih untuk diam. Tak pernah lagi berkomentar ataupun memberikan kritikkan pada setiap sesi bedah karya di grup tersebut atau di note beberapa teman yang mereka tag pada saya. Sampai beberapa minggu setelahnya saya terusik oleh sebuah inbox dari seorang teman yang bertanya mengapa sekarang-sekarang ini saya tak lagi aktif di sesi bedah karya di grup tersebut. Dan saat itu saya menjawab “Bosen. Saya terus yang ngasih komen, masukan dan kritikkan. Yang lain kemana? Saya juga nggak mau dianggap ‘Jago’ atau ‘Sok Jago’ karena saya merasa saya bukan termasuk keduanya”.

Ah, sebenarnya kalau boleh jujur saat itu saya juga ingin sekali menjawab “Saya nggak mau peduli lagi sama orang-orang yang mengharap saran dan kritikkan, saya juga nggak mau lagi peduli sama yang namanya bedah-bedahan”. Tapi entah mengapa saya tidak mengatakannya, saya tidak menjawabnya seperti itu. Mungkin karena saya sadar, saya sendiri pun membutuhkan saran dan kritikkan itu. Saya sadar saya sendiri pun pernah merasakan bagaimana rasanya diacuhkan. Meminta pendapat, saran dan kritikkan pada orang lain atas karya yang saya buat karena saya ingin tahu seberapa jauh kemampuan saya, seberapa pesat kemajuan saya, seberapa parah kesalahan saya, saya ingin tahu apakah yang saya buat ini bagus atau jelek tapi sama sekali tak ada yang peduli. Mereka membiarkan saya tetap pada kesalahan saya. Dan itu rasanya menyebalkan! Sungguh sangat menyebalkan!

Inbox yang lain datang. Ada yang isinya mempertanyakan kenapa karyanya/tag note-nya dicuekin, ada yang isinya kenapa akhir-akhir ini saya jarang muncul dan jarang komen di grup tersebut. Dan sekali lagi ingin rasanya saya menjawab kenapa harus saya? Kenapa nggak orang lain atau admin lain? Saya juga ingin sekali bertanya apakah dia juga menanyakan hal yang sama pada admin lain? Tapi nyatanya saya tidak melakukan itu.

Tapi karena inbox-inbox itulah saya justru jadi berpikir ulang atas keputusan saya beberapa bulan lalu. Inbox-inbox tersebut justru menyadarkan saya betapa pentingnya sebuah saran, masukan dan kritikkan bagi sebagian orang.

Karena inbox-inbox itu jugalah akhirnya saya sadar kalau apa yang saya lakukan selama ini tak ada salahnya. Benar, tak ada salahnya kita yang masih pemula ini, yang masih belum ada apa-apanya ini memberikan komentar, saran atau masukan bahkan kritikkan yang kita anggap perlu untuk kita ungkapkan sesuai dengan apa yang kita tahu dan kita rasakan, dengan tetap menggunakan bahasa dan kalimat yang tak menyakitkan tentunya.

So, masihkah kita berpikir kalau memberi saran dan kritikkan itu hanya pantas untuk sang ahli?

Mengapa tidak kita anggap saja pengungkapan saran atau kritikkan itu sebuah diskusi atau sebuah latihan agar kita lebih berani mengungkapkan pendapat kita yang bisa memberi manfaat baik bagi si pengharap kritik ataupun si pemberi kritik.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki wawasan, keahlian, pengetahuan dan kemampuan yang berbeda-beda. Saya juga percaya bahwa sebodoh-bodohnya manusia masih ada hal yang ia ketahui untuk bisa dibagi.

Dan sekecil apapun saran dan kritikkan kita, percayalah! Itu akan sangat berguna untuk kemajuan bersama.

Posted by Wordmobi

3 comments on “MEMBERI KRITIK DAN SARAN APAKAH HANYA PANTAS UNTUK SANG AHLI?


  1. Huhaaaa.. Sussaaah siiih emang buat ngritik. Apalagi kalo ilmunya masih cetek. Tapi justru sebenarnya orang-orang tuh gampang yaah nyari2 kesalahan orang lain. Ckck.. Aku ada di alasan nomor satu dan tiga. :)

    • Ckckck…! Ya, emang lebih gampang ngeliat kesalahan orang lain dari pada ngeliat kesalahan sendiri, hihi…

      Tapi kalo dia yang minta dikritik seenggaknya kita kasih apa yang mampu kita kasih aja, hee..
      Kasian juga kalo dicuekin..

      Thankyuuu… yaa udah mau mampir, hehe..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s